Olahraga di luar ruangan seperti jogging, bersepeda, atau jalan kaki menjadi pilihan banyak orang untuk tetap aktif. Namun, ketika terjadi aktivitas vulkanik dan abu mulai terbawa angin ke sejumlah wilayah, kondisi udara perlu menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan ketika terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan. Abu juga dapat mengganggu mata dan menyebabkan iritasi pada kulit. WHO menyebut paparan abu dan gas vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan serta iritasi mata dan kulit.

Mengapa Olahraga Outdoor Perlu Dipertimbangkan?

Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga frekuensi dan kedalaman napas meningkat. Artinya, ketika kualitas udara sedang buruk atau terdapat abu vulkanik di udara, aktivitas fisik di luar ruangan berpotensi meningkatkan jumlah partikel yang terhirup.

WHO juga menjelaskan bahwa aktivitas fisik dapat memengaruhi jumlah polutan yang masuk dan mengendap di saluran pernapasan. Karena itu, ketika terjadi episode polusi udara, waktu dan lokasi olahraga sebaiknya disesuaikan untuk mengurangi paparan.

Jadi, bukan berarti olahraga harus dihentikan setiap kali ada informasi mengenai aktivitas vulkanik. Namun, olahraga outdoor sebaiknya ditunda ketika terdapat abu yang sedang turun atau kualitas udara tidak mendukung, terutama jika ada imbauan dari otoritas setempat.

Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Pernapasan

Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran napas. Keluhan yang mungkin muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga kesulitan bernapas. Orang dengan kondisi pernapasan tertentu, seperti asma, juga dapat lebih rentan mengalami masalah ketika terpapar abu vulkanik.

Jika setelah berada di luar ruangan muncul batuk yang menetap, sesak, napas terasa berat, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segera menjauh dari area yang terpapar dan mencari bantuan medis bila gejalanya berlanjut.

Jangan Lupa Melindungi Mata dan Kulit

Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata. Partikel abu yang terbawa angin bahkan dapat menggores permukaan mata. Karena itu, ketika harus berada di luar ruangan dalam kondisi berabu, penggunaan pelindung mata dapat membantu mengurangi paparan.

Kulit juga sebaiknya ditutup dengan pakaian yang cukup, terutama jika abu sedang turun. Setelah kembali ke dalam ruangan, bersihkan tubuh dan wajah dengan lembut. Hindari menggosok kulit terlalu keras karena partikel abu bersifat abrasif dan dapat menyebabkan iritasi.

Kalau Tetap Ingin Berolahraga, Bagaimana?

Ketika kondisi udara sedang tidak baik, pilihan yang lebih aman adalah memindahkan aktivitas fisik ke dalam ruangan. Jalan kaki di tempat, latihan kekuatan ringan, yoga, atau mengikuti olahraga dari rumah dapat menjadi alternatif sementara.

Jika memang harus keluar rumah, ikuti informasi kualitas udara dan arahan dari pihak berwenang. CDC merekomendasikan untuk menghindari paparan abu sebanyak mungkin dan menggunakan respirator yang sesuai jika harus berada di luar saat abu beterbangan.

Yang juga penting, jangan menjadikan olahraga sebagai alasan untuk memaksakan diri keluar rumah ketika kondisi lingkungan sedang tidak mendukung. Tetap aktif memang penting bagi kesehatan, tetapi memilih waktu dan tempat olahraga yang lebih aman merupakan bagian dari gaya hidup aktif yang sehat.

Tetap Aktif dengan Lebih Bijak

Olahraga rutin memberikan banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Namun, olahraga juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. Ketika terjadi aktivitas vulkanik dan abu berpotensi menyebar, memperhatikan kualitas udara dan mengikuti arahan resmi menjadi langkah yang lebih bijak.

Jadi, kalau biasanya jogging dilakukan di taman atau bersepeda di luar rumah, tidak ada salahnya mengganti sementara dengan aktivitas indoor sampai kondisi udara kembali lebih aman.

Kesimpulan

Saat terdapat abu vulkanik di udara, olahraga outdoor sebaiknya tidak dipaksakan. Paparan abu dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit, sementara aktivitas fisik dapat membuat seseorang menghirup lebih banyak udara.

Tetap aktif bisa dilakukan dengan memindahkan olahraga ke dalam ruangan sementara waktu. Pantau informasi dari otoritas terkait, perhatikan kondisi udara, dan prioritaskan kesehatan sebelum kembali berolahraga di luar ruangan.